Selasa, 08 September 2009

Manajemen Waktu dalam Pendidikan: Konsep dan Strategi

Oleh: Muhammad Toha

A. Pendahuluan

Manajemen bagian dari kehidupan yang di dalamnya terjalin hubungan antar manusia dengan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama pula. Dalam dimensi kehidupan bekerja antar personel manusia yang memiliki keragaman sifat, kultur, pola fikir dan lain-lain, yang berbeda ini sangatlah komplek permaslahan yang dihadapi. Dan mau tidak mau persoalan-persoalan yang dibawa itu akan membawa dampak positif atau negatif pada pencapaian tujuan bersama itu. Maka sangat perlu diperhatikan oleh seorang manajer untuk menjadi wacana pertimbangan dalam menentukan langkah-langkah manajemennya. Misalnya terkait konflik yang terjadi dalam organisasi, pengelolan perubahan, mengelola jaringan komunikasi dalam organisasi, pengelolaan waktu, pengelolaan budaya, dan lain-lain.

Semua itu kalau tidak dikelola secara baik, maka ia akan menjadi penghambat jalannya roda organisasi atau lembaga pendidikan. Tapi kalau dikelola secara baik, maka akan menjadi pemicu untuk keberhasilan kegiatan manajerial itu.

Pada dasarnya setiap manusia diberi waktu yang sama oleh Allah SWT, apakah ia raja atau rakyat, kaya atau miskin, atasan atau bawahan, yaitu 24 jam dalam sehari semalam. Namun ada saja orang yang merasa 24 jam tersebut merupakan waktu/masa yang singkat sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk menikmati hasil kerjanya, ada juga orang yang merasa waktu 24 jam itu terlalu lama sehingga ia dengan mudahnya membuang dan menyia-nyiakan waktunya, tapi ternyata ada juga orang yang bisa mengelola waktunya yang 24 jam tersebut sehingga ia bisa melaksanakan tugas sekaligus menikmati haknya dalam waktu itu.

Tulisan berikut akan mencoba menggali tentang konsep dan strategi pengelolaan waktu dalam pendidikan.

B. Pengertian Manajemen

Manajemen berasal dari Bahasa Inggris management (dengan kata dasar manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola atau memperlakukan) yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, dan pengelolaan,[1] sedang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata manajemen berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan[2]

Manajemen waktu merupakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan produktivitas waktu. Waktu menjadi salah satu sumber daya unjuk kerja. Sumber daya yang mesti dikelola secara efektif dan efisien. Efektifitas terlihat dari tercapainya tujuan menggunakan waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. Dan efisien tidak lain mengandung dua makna, yaitu: makna pengurangan waktu yang ditentukan, dan makna investasi waktu menggunakan waktu yang ada.

Manajemen waktu bertujuan kepada produktifitas yang berarti rasio output dengan input. Tampak dan dirasakan seperti membuang-buang waktu dengan mengikuti fungsi manajemen dalam mengelola waktu. Merencanakan terlebih dahulu penggunaan waktu bukanlah suatu pemborosan melainkan memberikan pedoman dan arah bahkan pengawasan terhadap waktu. Dari tinjauan secara komprehensif pekerjaan yang hendak dikerjakan dan rumusan tertulis sebuah rencana dapat diketahui prioritas hubungan antar aktifitas yang akan dikerjakan sendiri serta yang didelegasikan. Jebakan yang sering muncul disini adalah rasa percaya diri dapat cepat bila dikerjakan sendiri dimana hal itu perasaan yang kurang tepat. Setelah pengorganisasian terjadi maka penggerakan pun dilakukan yang mencakup pelaksanaan sendiri dan pemberian motivasi kepada pemegang delegasi.

Satu hal yang penting ialah komitmen kuat untuk konsisten pada rencana dan mengeliminasi gangguan-gangguan termasuk permintaan bantuan dari atasan maupun bawahan dengan cara berani mengatakan “TIDAK”. Akhirnya setelah selesai tuntas pekerjaan dilakukan pengawasan berdasarkan rencana, yang tidak lupa memberikan reward terhadap keberhasilan. Dalam situasi waktu sesuai rencana belum habis sedangkan pekerjaan telah tuntas seyogyanya dipergunakan untuk menambah kuantitas, merencanakan pekerjaan selanjutnya dan atau investasi waktu. Pendek kata, kualitas manajamen waktu berpedoman kepada empat indikator, yaitu: tetap merencanakan, tetap mengorganisasikan, tetap menggerakkan, dan tetap melakukan pengawasan. Empat prinsip tersebut, applicable dalam semua pekerjaan. Variasi terjadi dalam kerumitan dan kecepatan setiap tahap dilakukan. Perencaaan jangka panjang jelas lebih rumit dan relatif lama dari perencanaan jangka pendek, bahkan karena begitu pendeknya dimungkinkan perencanaan begitu singkat yang berlangsung dalam hitungan detik.

C. Manajemen Waktu dalam Pendidikan: Konsep dan Strategi

1. Konsep Manajemen Waktu dalam Pendidikan

Kalau boleh dikatakan bahwa setiap orang memiliki pengertian dan konsep yang berbeda tentang waktu. Ada yang merasa kaya (banyak mempunyai) dengan waktunya, namun ada pula yang merasa tidak punya banyak waktu (miskin). Orang yang merasa kaya akan waktunya, seringkali menyia-nyiakan waktunya, dan karenanya tidak mengherankan ia akan menunda pekerjaan yang seharusnya bisa ia selesaikan, ia beranggapan bahwa ia memiliki waktu untuk hari esok dalam mengerjakan pekerjaannya, dan akhirnya ia terkenal dengan julukan mengulur atau menunda waktu dan mengabaikan segala peluang yang ada.

Berbeda dengan orang yang merasa miskin dengan waktu, hidupnya kadang dipenuhi dengan persoalan yang menurutnya serba kurang waktu. Apa yang dilakukannya selalu membuatnya repot sehingga tidak punya waktu bagi diri dan keluarganya. Waktu yang dimilikinya hilang begitu saja ditelan kesibukannya yang selalu mendesak, dan celakanya ia juga tidak menyadari bahwa waktu berharganya hilang begitu saja, hingga pada akhirnya (masa tua) ia tidak memperoleh apa-apa yang berarti dalam hidupnya. Ilustrasi yang digambarkan oleh Allah SWT terhadap orang yang tidak bisa memanfaatkan waktunya:

Artinya: 1. Demi waktu 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (QS. Al-‘Ashr [103]:1-3)

Berbeda sekali dengan orang yang sadar dan dapat memanfaatkan waktunya denga sebaikn-baiknya. Sehingga ia menempatkan waktunya menurut skala prioritas dan tidak ragu menginvestasikan waktunya meski tidak menghasilkan dalam waktu yang singkat. Orang seperti ini juga akan mengerjakan terlebih dahulu apa yang dianggapnya penting dan mendesak (dead line).

Perlu diperhatikan beberapa konsep manajemen waktu, yaitu:

a. Waktu Terus Bergerak Maju

Siapapun mengetahui bahwa waktu terus bergerak maju dengan kecepatan yang oleh banyak orang tidak disadarinya. Ketika seseorang sedang asyik dengan pekerjaannya yang menyenangkan, maka ia baru sadar ketika ia harus mengakhiri pekerjaan itu karena batas waktunya telah sampai. Artinya waktu terus bergerak maju dan tak kenal kompromi kepada siapapun, konsep ini dapat diterapkan pada bidang apa saja, untuk mengukur sejauh mana waktu yang telah digunakan itu menjadi efektif dan efisien, sehingga waktu yang bergerak maju ini menjadi tolok ukur agar waktu yang dimiliki tidak sia-sia.

b. Waktu Terus Berlalu

Pendapat ini mutlak benar, karena waktu itu akan terus saja berlalu apakah seorang –manager/kepala sekolah- memanfaatkannya atau tidak, sehingga banyak orang mengatakan bahwa waktu berlalu begitu saja, dan tinggal kenangan dan penyesalan kenapa ia tidak memanfaatkan kesempatan yang kalau digunakan dengan tepat akan membawa perubahan yang berarti padanya.

Seorang kepala sekolah harus menyadari bahwa dia tidak selamanya menjadi kepala sekolah, waktu “jabatan harus ditinggalkan” akan datang dan pada saat itu jika ia sudah memanfaatkan waktu ketika menjadi kepala sekolah dengan membuat prestasi dan kemajuan sekolah yang dipimpinnya, maka ia akan menikmati kesuksesan tersebut pada masa selanjutnya.

c. Waktu Tidak Biasa Ditabung

Waktu tidak seperti uang yang kita miliki, yang bisa ditabung untuk digunakan nanti pada saat kita memerlukannya, namun satu hal yang pasti bahwa “waktu” adalah harta yang paling berharga bagi setiap orang. Bagi seorang kepala sekolah ia harus bisa memanfaatkan waktunya baik sebagai pimpinan, sebagai bawahan, sebagai anggota masyarakat dan sebagai apapun ia berperan, maka waktu harus dimanfaatkan dengan baik.

d. Waktu Adalah Uang (Time is money)

Orang Inggris mengatakan istilah tersebut yang sering disalah artikan oleh sebagian orang, memang bagi seorang kapitalis, jargon tersebut sangat berpengaruh terhadap pendapatan/harta yang diusahakannya, namun bagi seorang yang berusaha untuk memanfaatkan waktu yang dimilikinya, jargon tersebut berarti ia harus menggunakan waktu miliknya dengan bijaksana agar tujuannya berhasil, dalam hal ini seorang kepala sekolah akan dengan sekuat energinya mengelola lembaga yang dipimpinnya agar setiap personel lembaganya menghargai waktu, baik waktu untuk pengembangan karir, waktu pengabdian kepada negara, pengabdian kepada Tuhannya, dan sebagainya agar tidak terjadi konflik “tabrakan” waktu dengan kegiatan lainnya.

e. Waktu Bisa Dikelola

Mengelola waktu (managing the time) dapat dilaksanakan jika seorang bersikaf konsekuen dengan rencana-rencana yang telah dibuatnya sendiri, dan karena setiap kegiatan sudah direncakan dengan batas waktunya sendiri, maka ia harus mengerjakan sesuai dengan waktunya agar tidak terjadi tumpang tindih (over lapping) dalam pelaksanaan suatu kegiatan.

“Seyogyanya bagi orang yang berakal –selama tidak terkalahkan oleh akalnya- mempunyai empat macam saat. Satu saat untuk berkomunikasi dengan Tuhannya, satu saat untuk mengoreksi dirinya, satu saat untuk bertafakkur tentang ciptaan Allah ‘azza wa jalla, dan satu saat untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum” (HR. Ibnu Hibban)[3]

Khalifah ‘Ali r.a. juga mengatakan “Senang-senangkanlah hati sesaat. Sebab, hati itu jika dipaksa akan menjadi buta”,[4] jadi, di antara kiat mengelola waktu, hendaklah disediakan sebagian waktu untuk istirahat dan have fun (bersenang-senang), sebab nafsu manusia akan merasa jemu dan meresa jenuh dengan satu kegiatan yang monoton.

2. Strategi Manajemen Waktu dalam Pendidikan

Menurut Prof. Dr. Sudarwan Danim dan Dr. Suparno bahwa salah satu kelemahan sebagian besar kepala sekolah –dan juga tenaga kependidikanlainnya serta tenaga administrasi- adalah kurang disiplinnya dalam memanfaatkan waktu yang sudah disusun oleh mereka sendiri, karena mungkin terlalu padat atau juga terlalo longgar.[5] Telah diketahui bahwa dalam manajemen setidaknya ada empat kegiatan utama yang mendasari berjalannya sebuah pengelolaan, yaitu: planning, organizing, actuating, dan controlling. Berikut akan kita coba membahasnya dalam kerangkan manajemen waktu sebagai sebuah strategi yang diterapkan agar tujuan sekolah khususnya dapat tercapai dengan maksimal.

Manajemen atau pengelolaan waktu meliputi, 1) Kalender Pendidikan; 2) pengelolaan waktu dalam satu tahun (prota); 3) pengelolaan waktu dalam satu semester (prose); 4) pengelolaan waktu harian (jadwal pelajaran); 5) pengelolaan waktu pelaksanaan Ulangan atau Ujian; 7) pengelolaan kegiatan lainnya.

a. Fungsi Perencanaan (Planning)

Tahap perencanaan dalam mengelola waktu sangat penting karena sebuah sekolah akan menentukan kapan suatu program akan dilaksanakan, berapa lama program itu akan dilaksanakan, dan kapan program harus dikaji ulang jika dalam pengerjaannya terdapat kendala yang menyebabkan program tersebut tidak maksimal dalam pelaksanaannya. Untuk perencanaan ini, seorang manajer atas (top manager) perlu duduk bersama dan merumuskan jadwal dengan bawahannya, sehingga terdapat kesamaan pandangan dan langkah dalam mencapai tujuan suatu lembaga/sekolah.

Perumusan sebuah visi, misi, dan tujuan serta program yang akan dilaksanakan oleh sekolah harus jelas dan terukur serta dapat dilaksanakan (realistis). Bagi sebuah lembaga sekolah, selayaknyalah seorang manajer dapat mengatur waktu dalam berbagai kegiatan lembaga serta orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, yaitu dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban serta dalam melaksanakan berbagai kegaitan, jangan sampai kegaitan penting dikalahkan oleh kegiatan yang kurang penting atau bahkan tidak penting. Kegitan yang penting dan urgen harus segera dilaksanakan, sedangkan kegitan yang tidak menuntut untuk dikerjakan dengan segera dan dapat ditunda pelaksanaanya dapat dikerjakan pada lain waktu dan sesuai dengan time schedule yang telah dirancang.

Sebuah sekolah[6] biasanya telah menyiapkan rencana kegiatan utama yang tercantum dalam Kalender Pendidikan yang harus disertakan dalam dokumen I KTSP dan diketahui oleh Dinas Pendidikan atau Departemen Agama. Kalender pendidikan merupakan jadwal kegiatan tahunan, yang diterjemahkan lagi kedalam program semester, yang kemudian dibreak-down oleh bagian kurikulum menjadi jadwal mengajar yang bersifat harian, dan bahkan seorang guru mengelolanya lagi menjadi pertemuan/kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup dalam setiap pembelajrannya.

Selain kalender pendidikan yang menjadi pedoman kapan sebuah kegiatan dilaksanakan, pada sebuah sekolah juga memiliki perencanaan yang harus dilaksanakan dan tercapai dalam sebuah kerangka waktu, hal itu biasa tertuang dalam Rencana Strategis Sekolah (RSS) dan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) yang termasuk di dalamnya rencana jangka pendek (satu tahun), rencana jangka menengah (4 tahun), dan rencana jangka panjang (8 tahun).

Disamping kepala sekolah sebagai top manager yang merancang kegiatan dengan menggunakan jadwal (time schedule), seorang guru juga dituntut untuk dapat merencanakan pembelajaran yang harus disampaikan kepada siswa agar siswa dapat menguasai kompetensi yang diinginkan oleh kurikulum. Karenanya seorang guru (middle manager) dituntut membuat time schedule pembelajaran yang disebut dengan program tahunan, program semester, dan bahkan dalam pembelajaran di kelas juga harus dikelola dengan baik sehingga terlihat berapa menit untuk kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

b. Fungsi Pengorganisasian (organizing)

Sebenarnya pengelolaan waktu ini akan terkait dengan manajemen lainnya dalam pengelolan pendidikan, misalnya, akan terkait dengan tahap pengorganisasian dan kordinasi pada pelaksanaan kurikulum menurut panduan manajemen sekolah, yaitu:

1) Tahap penyusunan jadwal pelajaran yang diupayakan agar guru mengajar maksimal 5 hari dalam seminggu, sehingga ada waktu satu hari untuk mengikuti kegiatan MGMP atau peningkatan profesionalisme lainnya.

2) Tahap penyusunan jadwal kegiatan perbaikan dan pengayaan.

3) Tahap penyusunan jadwal kegiatan ekstra kurikuler

4) Tahap penyusunan jadwal penyegaran guru[7]

Fungsi pengorganisasian ini lebih dintensifkan agar tidak terjadi hal-hal yang menghambat jalannya sebuah organisasi atau lembaga. Jadi, pengorganisasian waktu dilakukan agar dalam pelaksanaanya tidak terjadi kendala –dalam istilah yang biasa disebut dengan “tabrakan”-, sehingga seorang manajer dituntut keahliannya dalam pengorganisasian waktu ini, kapan harus melaksanakan satu kegiatan rapat -misalnya- agar tidak menggaggu jawdal yang sudah ditetapkan.

Perorganisasian time schedule yang telah direncanakan

c. Fungsi Pelaksanaan (Actuating)

Tahap berikutnya dalam manajemen waktu ini adalah tahap pelaksanaan, dan karena suatu kegiatan telah direncanakan dan kapan dilaksanakan serta telah diorganisasikan agar tidak terjadi tumpang tindih kegaitan dan “tabrakan” waktu, maka dalam pelaksanaanya tidak akan terjadi kendala yang berarti, hanya saja kemungkinan ada sedikit atau sebagian kecil insiden yang mengganggu jadwal yang telah direncanakan, namun hal itu tidak terlalu mengacaukan semua jadwal, karena telah terorganisirnya jadwal dengan baik.

Agar tujuan suatu lembaga pendidikan tercapai, maka semua manajer (dari level top manager, middle manager, dan lower manager) melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan ketentuan waktu yang sudah disepakati bersama.

Ketika ada suatu kendala dalam pelaksanaan rencana yang sudah ditetapkan, misalnya ada satu kegaitan yang penting dan mendesak untuk dilaksanakan, maka jadwal yang telah ditetapkan dapat ditinjau ulang –diorganisasikan kembali- untuk kemudian dilaksanakan sesuai dengan time schedule baru. Mekanisme kegiatan ini bisa digambarkan dalam diagram berikut:

Perencanaan

Pengawasan


d. Fungsi Pengawasan (Controlling)

Pengawasan sebagai bagian penting dalam kegiatan sebuah manajemen memerlukan kemampuan untuk bertindak objektif, efektif dan efisien. Objektif berarti bahwa seorang manajer mampu melihat jalannya sebuah lembaga/sekolah dengan profesional dan proporsional, dia harus mampu mengesampingkan kepentingan pribadi atau golongan untuk melihat pada kepentingan pencapaian tujuan lembaga yang sudah terjadwal.

Selain pengawasan yang bersifat ­top-down (dari atas ke bawah) yang dilakukan oleh top manager kepada bawahannya, tetapi bisa juga dilakukan dengan pola bottom-up, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh bawahan kepada atasan, ketika suatu rencana belum atau tidak dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Karena bisa saja seorang manajer atau kepala sekolah lupa dengan kegiatan yang harusnya dilaksanakan, dan disinilah peran seorang wakil kepala sekolah untuk mengingatkan kepala sekolah tentang kegiatan yang harus dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan.

D. Kiat-Kiat Aplikatif Manajemen Waktu

Ada beberapa kaidah-kaidah yang aplikatif dalam mencapai keberhasilan seorang manajer dalam mengelola waktu pada satu lembaga pendidikan, yaitu:[8]

  1. Menganalisa sikap terhadap manajemen waktu dan mengenali sejauh mana kemampuan manajer dalam mengelola waktu. Apakah manajer menggunakan waktu dengan bijaksana? Dengan menggunakan skala prioritas atau tidak.
  2. Menyadari nilai akan pentingnya waktu, serta sejauh mana seorang manajer memandang kebutuhan waktu terhadap warga lembaga pendidikannya. Seorang manajer/kepala sekolah yang diharapkan adalah yang bisa menghargai dan konsen terhadap waktu, sehingga tidak patut kiranya seorang kepala sekolah menunggu dimotivasi oleh orang lain, tetapi seharusnya ialah yang memotivasi orang lain agar menggunakan waktu dengan bijak. Jika kita lihat bagaimana Allah SWT bersumpah dengan “waktu”,[9] ini menunjukkan bahwa seorang yang menghargai pentingnya nilai sebuah waktu akan menjadi pemenang dan sukses dalam kehidupan.
  3. Menyusun skala prioritas dengan tidak melupakan kewajiban komitmen terhadap waktu. Hal ini bisa dilihat dari terorganisirnya jadwal kegiatan serta tujuan sekolah (tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang, serta kalender pendidikan, program tahunan, program semester, ulangan semester dsb.)
  4. Mengenali hal-hal yang sangat dibutuhkan dalam mengelola waktu secara efektif. Kegiatan ini bisa dilakukan dengan membuat daftar kegiatan yang harus dilakukan agar menunjang tujuan sekolah.
  5. Mengenali hal-hal yang mengganggu pengelolaan waktu. Ada beberapa hal yang mengganggu profesionalitas dan efektifitas manajemen waktu, menurut Witten dan Kamirun yang dikutip oleh M. Ahmad Abu Jawwad (2004:23-24) yang menyatakan afa berbagai gaya yang menghambat pengelolaan waktu, yaitu:

a. Manajer yang menyelesaikan pekerjaan yang disukainya lebih dahulu dari pada pekerjaan yang tidak disukainya, meskipun keduanya adalah kewajibannya sebagai seorang manajer.

b. Manajer yang menyelesaikan pekerjaan yang disukai dengan kecepatan yang melebihi pekerjaan yang kurang disukainya.

c. Manajer yang cendrung melakukan pekerjaan yang mudah dari pada yang sulit meskipun dalam jadwal menyatakan urutan pelaksanaan yang sebaliknya.

  1. Melihat dan belajar kepada orang yang berhasil mengelola waktu dengan baik.
  2. Mengatasi atau mengurangi hal-hal yang mengganggu manajemen waktu.
  3. Meluruskan persepsi keliru terhadap manajemen waktu.
  4. Mempelajari cara mendelegasikan dengan efektif. Seorang manajer harus bisa mendelegasikan tugasnya yang bisa kerjakan bawahan agar ia bisa fokus pada tugas yang harus dikerjakan sendiri oeh seorang kepala sekolah

E. Penutup

Manajemen waktu diperlukan oleh seorang manajer/kepala sekolah agar dalam usaha menjalankan tugas kekepalasekolahannya bisa berjalan dengan baik, dan tujuan yang telah ditetapkan dengan berdasar skala prioritas dapat tecapai dengan maksimal.

Beberapa konsep dalam manajemen waktu dalam pendidikan yang bisa dijadikan pedoman bagi seorang manajer/kepala sekolah adalah: 1) Waktu Terus Bergerak Maju, 2) Waktu Terus Berlalu, 3) Waktu Tidak Biasa Ditabung, 4) Waktu Adalah Uang (Time is money), 5) Waktu Bisa Dikelola.

Kualitas manajamen waktu berpedoman kepada empat indikator, yaitu: tetap merencanakan, tetap mengorganisasikan, tetap menggerakkan, dan tetap melakukan pengawasan, yang kesemuanya ternyata applicable dalam semua pekerjaan.

Pada prinsipnya dalam manajemen waktu berlaku juga empat prinsip manajemen secara umum, yaitu: 1) perencanaan, 2) pengorganisasian, 3) pelaksanaan, dan 4) pengawasan, namun jika terjadi kendala dalam pelaksanaanya seorang manajer/kepala sekolah bisa kembali mengorganisasikan kegiatan yang terjadwal untuk kembali dilaksanakan.[]

DAFTAR BAHAN BACAAN

Danim, Sudarwan dan Suparno, Manajemen dan Kepemimpinan Transformasional Kekepalasekolahan: Visi dan Strategi Sukses Era Teknologi, Situasi Krisis, dan Internasionalisasi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2009

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta; Balai Pustaka, 1990, cet. 3

Echols, John M., dan Hassan Sadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta; PT. Gramedia, 1995

Jawwad, M. Ahmad Abdul, Manajemen Waktu, Bandung; PT. Syamil Cipta Media, 2004, terj. Khozin Abu Faqih, Ed. Nalus, cet. 2

Qomar, Mujamil, Manajemen Pendidikan Islam: Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, Erlangga, 2007

Qardhawi, Yusuf, al-Waqtu fî Hayat al-Muslim, diterjemahkan oleh Abu Ulya dengan judul Time is Up!, Manajemen Waktu Islami, Yogyakarta: Qudsi Media, Agustus 2007



[1]John M. Echols dan Hassan Sadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta; PT. Gramedia, 1995) cet. XXI, h.372

[2]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta; Balai Pustaka, 1990), cet. 3, h. 553

[3]Yusuf Qardhawi, al-Waqtu fî Hayat al-Muslim, diterjemahkan oleh Abu Ulya dengan judul Time is Up!, Manajemen Waktu Islami, (Yogyakarta: Qudsi Media, Agustus 2007), cet. 2, hl. 39-40

[4]Ibid., h. 40

[5]Sudarwan Danim dan Suparno, Manajemen dan Kepemimpinan Transformasional Kekepalasekolahan: Visi dan Strategi Sukses Era Teknologi, Situasi Krisis, dan Internasionalisasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 89

[6]Dalam KTSP setiap sekolah diperkenankan untuk merancang sendiri kalender pendidikannya.

[7]Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam: Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam, (Erlangga, 2007), cet. 1, h. 160-161

[8]M. Ahmad Abdul Jawwad, Manajemen Waktu, (Bandung; PT. Syamil Cipta Media, 2004), terj. Khozin Abu Faqih, Ed. Nalus, cet. 2, h. xvi

[9]Lihat QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3 (ada pada halaman 3-4 makalah ini)

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar